Jumat, 06 Mei 2016

Penggunaan obat tetes mata, salep mata, dan tetes telinga & Swamedikasi Obat pada Ibu Hamil dan Ibu Menyusui

Mata dan telinga merupakan bagian tubuh yang vital dari manusia. Ketika terjadi gangguan pada mata dan telinga penggunaan obat yang bekerja lokal lebih sering digunakan kepada masyarakat yang ingin melakukan swamedikasi seperti misalnya sediaan tetes mata, salep mata dan tetes telinga. Maka dari itu masyarakat perlu mengetahui cara penggunaan sediaan tersebut dengan tepat. Berikut adalah petunjuk cara penggunaan obat tetes mata, salep mata, dan tetes telinga.
 

Petunjuk Pemakaian Obat Tetes Mata

Gambar 1.Sumber: http://www.allaboutvision.com

Petunjuk Pemakaian:
1.    Ujung alat penetes jangan tersentuh oleh benda apapun (termasuk mata) dan selalu ditutup rapat setelah digunakan.
2.    Cuci tangan hingga bersih sebelum menggunakan obat tetes mata
3.    Kepala ditengadahkan, jari telunjuk kelopak mata bagian bawah ditarik ke bawah untuk membuka kantung konjungtiva,
4.    Obat diteteskan pada kantung konjungtiva dan mata ditutup selama 1-2 menit, jangan mengedip.
5.    Ujung mata dekat hidung ditekan selama 1-2 menit
6.    Tangan dicuci untuk menghilangkan obat yang mungkin terpapar pada tangan
7.    Untuk glaukoma atau inflamasi, petunjuk penggunaan yang tertera pada kemasan harus diikuti dengan benar


Petunjuk Pemakaian Obat Salep Mata
Gambar 3.Sumber: http://www.netdoctor.co.uk

Petunjuk Pemakaian:
1.    Ujung tube salep jangan tersentuh oleh benda apapun (termasuk mata).
2.    Cuci tangan hingga bersih sebelum menggunakan obat salep mata
3.    Kepala ditengadahkan, dengan jari telunjuk kelopak mata bagian bawah ditarik ke bawah untuk membuka kantung konjungtiva
4.    Tube salep mata ditekan hingga salep masuk dalam kantung konjungtiva
5.    Mata ditutup selama 1-2 menit. Mata digerakkan ke kiri-kanan, atas-bawah.
6.    Setelah digunakan, ujung kemasan salep diusap dengan tissue bersih (jangan dicuci dengan air hangat) dan wadah salep ditutup rapat.
7.    Cuci tangan untuk menghilangkan obat yang mungkin terpapar pada tangan

Pemakaian Obat Tetes Telinga

Petunjuk Pemakaian:
1.    Ujung alat penetes jangan menyentuh benda apapun termasuk telinga
2.    Cuci tangan sebelum menggunakan obat tetes telinga
3.    Bersihkan bagian luar telinga dengan ”cotton bud”
4.    Jika sediaan berupa suspensi, sediaan harus dikocok terlebih dahulu
5.    Penderita berbaring miring dengan telinga yang akan ditetesi obat menghadap ke atas.
6.    Untuk membuat lubang telinga lurus sehingga mudah ditetesi maka bagi penderita dewasa telinga ditarik ke atas dan ke belakang, sedangkan bagi anak anak telinga ditarik ke bawah dan ke belakang.
7.    Kemudian obat diteteskan dan biarkan selama 5 menit
8.    Bersihkan ujung penetes dengan tissue bersih.


Semoga Bermanfaat

K. Sastra Negara
1508526007

Sumber:
Direktorat Bina Frmasi Komunitas Klinek Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Departemen Kesehatan RI. 2007. Pedoman Penggunaan Obat Bebas dan Bebas Terbatas. Separtemen Kesehatan RI: Jakarta
 





 Swamedikasi Obat pada Ibu Hamil dan Ibu Menyusui
Image Source

Halo.. apa kabar semua? semoga dalam kondisi sehat ya, kalau ada yang lagi sakit semoga cepet sembuh. Penyakit emang ga pandang bulu, mulai dari anak-anak, dewasa, peremuan, laki-laki semua semua pasti pernah mengalami yang namanya sakit. Penyakit-penyakit dengan gejala yang ringan masih bisa di obati sendiri atau Swamedikasi, termasuk dalam kondisi khusus seperti pada ibu hamil dan menyusui. Kali ini akan dibahas tentang swamedikasi pada ibu hamil dan ibu menyusui.

Pada kehamilan yang menjadi fokus perhatian dalam penggunaan obat adalah memastikan keamanan bagi ibu dan janin. Penggunaan obat-obatan pada masa kehamilan terutama pada trimester mendapat perhatian lebih karena dapat terjadi paparan obat terhadap janin dan dapat mempengaruhi tumbuh kembang janin. penggunaan obat pada masa kehamilan dilakukan jika manfaat melebihi resiko dari penggunaan obatan tersebut. Obat berdasarkan pada keamanannya pada masa kehamilan diklasifikasikan oleh FDA (Food and Drug Administration) menjadi 5 kategori yaitu A,B,C,D dan X. kategori tersebut berdasarkan ada tidaknya pengaruh obat terhadap janin/efek teratogenik pada manusia atau hewan uji. Batuk, pilek, alergi, nyeri, dan gangguan pencernaan merupakan penyakit yang umum dialami oleh ibu hamil. Beberapa obat-obat swamedikasi yang dapat digunakan antara lain seperti CTM (antihistamin), Phenylephrine (dekongestan), Dextomethorphan (antitusif), Guaifenesin (ekspektoran), parasetamol dan antasida (kecuali magnesium trisilicate dan natrium bicarbonate). Untuk memastikan keamanan bagi ibu dan janin, sebaiknya pasien berkonsultasi terlebih dahulu  dengan Apoteker sebelum mengkonsumsi obat pada masa kehamilan untuk tujuan swamedikasi.

Hampir serupa dengan penggunaan obat pada kehamilan, pada ibu menyusui yang menjadi perhatian adalah agar bayi tidak terpapar obat yang dikonsumsi ibu. Obat yang dikonsumsi oleh ibu sebagian terekskresi melalui air susu ibu (ASI). Sehingga dikhawatirkan bayi mengalami adverse effect yang disebabkan oleh obat yang terkandung di dalam ASI. Sebagian besar obat-obatan terekskresi melalui ASI dalam jumlah yang kecil dan berada dibawah dosis terapi bagi bayi. Walaupun demikian, bagi bayi yang mendapatkan ASI disaat ibunya mengkonsumsi obat harus tetap dilakukan pengamatan terhadap efek samping obat. Untuk meminimalisir paparan terhadap bayi melalui ASI dapat dilakukan hal-hal seperti merubah rute administrasi obat dan menghindari efek sistemik, menggunakan dosis lazim terkecil, mengatur waktu pemberian ASI pada bayi dan waktu meminum obat (misalnya memberi ASI dahulu sebelum jadwal meminum Obat) dan mengganti dengan obat yang lain jika memungkinkan. Obat-obatan swamedikasi yang umum digunakan pada ibu menyusui seperti paracetamol dan ibuprofen (analgesik), guaifenesin, bromhexin, dextrmethorphan dan loratadine. Penggunaan pseudoefedrin perlu dihindari saat masa menyusui karena dapat mengurangi produksi ASI. Konsultasikan setiap penggunaan obat selama menyusui pada apoteker atau dokter untuk memastikan keamanan terutama agar bayi tidak mengalami efek samping dari pengobatan yang di terima ibunya.

A.A. Bagus Maradi W. D.
1508526008

Sumber:

Christof Schaefer,Paul W.J. Peters,Richard K Miller. 2014. Drugs During Pregnancy and Lactation: Treatment Options and Risk Assessment.



Anita T. Mosley, PhD, PharmD; Amy P. Witte, PharmD. 2013. Drugs in Pregnancy:Do the Benefits Outweigh the Risks?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar