Jumat, 06 Mei 2016

SWAMEDIKASI OBAT PADA GERIATRI

Image Source
Populasi geriatri (Lansia) merupakan populasi yang sudah mengalami penurunan fungsi fisiologis. Proses penuan pada umumnya dimulai pada umur 40an yakni dengan adanya penurunan kondisi sel tubuh yang akan mempengaruhi fungsi organ, termasuk kemampuan sistem keseimbangan tubuh dalam menghadapi penyakit atau tekanan seperti kelelahan. Sebagai contoh, flu pada lansia dapat lebih berbahaya daripada orang berusia muda. Beberapa pengaruh penuan pada tubuh diuraikan dibawah ini :
  • Kulit menjadi lebih tipis, kering, berkurangnya kadar lemak, berkerut, kurangnya fungsi pelindung dan bahkan kurangnya aliran darah kekulit.
  • Sistim pembuluh darah menurun seperti kurangnya aliran darah yang dipompa jantung, kurangnya elastisitas pembuluh darah dan menumpuknya zat-zat lemak pada bagian dalam arteri yang menyebabkan hipertensi.
  • Sistim pernapasan mengalami gangguan, misalnya: menempelnya kolagen diparu-paru yang menyebabkan kurangnya kemampuan untuk mengembang. berkurangnya aliaran darah ke paru-paru menyebabkan pernapasan berkurang efisein dan oksigen yang dialirkan ke tubuh menjadikurang. Hal ini menyebabkan frekuensi bernafas lebih cepat dari normal 16-20 kali per menit.
  • Sistim saraf mengalami penurunan daya ingat dan kemampuan mengambil keputusan karena sel otak yang mati dan atau berkurangnya aliran darah ke otak. Bingun dan perubahan personalitas dapat terjadi karena kekurangan oksigen yang dibawa darah ke otak.
  • Sistem sensor/indra umumnya kurang kuat dan kurang jelas. Mata kadang-kadang tidak tahan cahaya matahari langsung, telinga kurang mendengar, atau butuh suara lebih keras dan indra perasa dan pembau juga kurang berfungsi dengan baik. Jika ini terjadi maka lansia akan bingung apa lagi kalau dalam lingkungan atau orang-orang yang tidak membantu.
  • Sistem pencernaan mengurangi penurunan gerakan dan sekresi asam lambung yang akan menyebabkan makanan sulit untuk dicerna, sulit unutk menguyah atau tidak nyaman karena gigi yang hilang/berkurang absorpsi yang berkurang sehingga kekurangan nutrisi.
  • Sistem pembuangan air seni yang menurun, seperti terjadinya penumpukan sisa-sisa metabolisme tubuh yang seharusnya dibuang yang disebabkan karena melambatnya fungsi penyaringan ginjal dan melambatnya aliran darah yang masuk ke ginjal.
  • Sistem hormon mengalami gangguan sekresi sehingga metabolisme sel tubuh tidak dapat diatur dengan baik dan tubuh tidak dapat bereaksi cepat terhadap tekanan dari luar. Misalnya banyak lansia yang mengalami diabet.
  • Sistem reproduksi mengalami pengurangan hormon seks, yang menyebabkan perubahan fisik, misalnya wanita berumur diatas 48 tahun tidak akan mentruasi, namun dalam hal kebahagian dalam aktifitas seksual lansia tidak begitu terganggu karena tidak hanya hormon seks tapi juga karena pengaruh sikap dan emosi.
  • Sistem otot mengalami penurunan kekuatan dan kelenturan, disamping itu juga mengalami peningkatan jumlah lemak yang menggantikan otot, tulang menjadi lebih ringan dan porositas tinggi, sehingga mudah patah dan lama tumbuh. Sendi dan otot disekitarnya menjadi rusak. 

Karena pengaruh sepuluh hal diatas, maka jika lansia memakai obat, umumnya akan terjadi pelambatan absorpsi, distribusi metabolisme dan ekskresi/eliminasi. Pemilihan obat yang sesuai dengan kondisi tersebut memerlukan pengetahuan yang hanya dimiliki oleh apoteker. Pemilihan obat tersebut juga diikuti oleh penentuan dosis yang tepat, cara penggunaan obat yang tepat, monitoring efek terapi dan efek samping obat.
Swamedikasi dipertimbangkan oleh World Health Organisation (WHO) untuk menjadi kebijakan kesehatan internasional, karena swamedikasi tidak hanya dapat mengurangi beban biaya pada pelayanan kesehatan namun juga mampu meningkatkan ketaatan pasien dan meningkatkan outcome pengobatan. Dengan pertimbangan tersebut, maka peran apoteker di Indonesia dalam swamedikasi terutama untuk populasi geriatri sangat dibutuhkan. Apoteker hendaknua menjadi sumber informasi yang baik, hangat dan memiliki pengetahuan yang cukup dalam melayani pasien lasia. Berikut merupakan saran yang dapat dilakukan untuk melakukan swamedikasi obat pada pasien geriatri untuk mencapai terapi yang optimal:  
Hal pertama adalah memastikan data/informasi tentang pasien dan kondisinya. Kekurangan oksigen ke otak, efek samping obat, dan beberapa penyakit dapat menyebabkan lansia kurang mengenal dirinya atau setidak-tidaknya kondisi fisik sosial dan kondisi psiologisnya. Jadi dapat saja terjadi jika ditanya atau dipanggil lansia tidak menjawab.
    • Jelaskan apa yang akan anda lakukan/sampaikan untuk melayani lansia agar yang bersangkutan paham dan mau bekerjasama dalam pemakaian obat. Kadang-kadang lansia takut memakai obat mungkin karena tidak paham. Penjelasan yang ramah dan kesabaran untuk mendengarkan akan membantu pengobatan.
    • Jelaskan tentang oabat yang akan dipakai, mungkin saja lansia karena pengalamannya, pernah mengalami ketidaknyamanan dalam memakai obat. Jadi perlu ditanyakan atau dijelaskan untuk tidak perlu khawatir dan sampaikan manfaat yang akan dirasakan sambil menjelaskan dengan hati-hati kemungkinan efek samping yang akan terjadidan cara menghadapi atau mengatasinya. Karena biasanya jenis obat yang dipakai banyak dan kemungkinan ada penolakan/ketidak patuhan lansia, maka jelaskan obat yang paling penting mana yang harus dipakai.
    • Minta keluarga atau siapapun yang bisa jadi pengawas pemakai obat (PMO) untuk membantu dan mengawasi pemakaian obat.
    • Jika lansia sukai memakai obat dapat dibantu dengan minum obat bersama makanan dan atau minuman yang sesuai. Hati-hati terhadap obat yang tidak tahan terhadap asam, jangan diberikan dengan jus buah atau obat-obtan yang tidak tahan basa jangan diminum dengan susu.
    • Jelakan bila perlu berikan catatan jika pasien bingung mungkin disebabkan kodisi fisik/psiologis atau karena efeek samping obat.
    • Jika pasien lansia mengalami kekurangan pendengaran dan atau penglihatan, anda perlu menyusuaikan diri, misal bicara dengan mengatur tinggi dan rendah intonasi dan artikulasi suara pada saat memberikan penjelasan atau intruksi serta memberikan waktu untuk menjawab. Jika perlu buat tulisan yang jelas dengan huruf besar.
    • Perhatikan interaksi baik sesama obat atau makanan/minuman, termasuk kemungkinan penyalahgunaan obat bebas, herbal atau alat tradisional.
    • Perlu penjelasan tentang penyimpanan obat dengan baik dan menjaganya untuk tidak salah memakai dan menyimpan obat.
    • Jika ada obat yang diberi cara penggunaan ”bila perlu”maka perlu penjelasan mengapa dan apa tujuan penggunaan ”bila perlu”, misalnya analgetik tidak lagi dipakai jika rasa sakit sudah menghilang.

Semoga Bermanfaat ^^

NYOMAN KRISNA UDAYANA
1508526009
SUMBER:
Anonim, 2014, Topik Sajian Utama : Menuju Swamedikasi yang Aman. Buletin InfoPOM. Vol.15 No.1:-12.
Prest, M. 2003. Penggunaan Obat Pada Lanjut Usia, dalam Farmasi Klinis (Clinical Pharmacy)Menuju Pengobatan Rasional dan Penghargaan Pilihan Pasien, editor: Mohamed Aslam, Chik Kaw Tan, Adji Prayitno, Elex Media Komputindo, Jakarta.
Supadmi, W. 2013. Gambaran Pasien Geriatri Melakukan Swamedikasi Di Kabupaten Sleman. Pharmaciana, Vol. 3. No. 2: 45-50.

Penggunaan obat tetes mata, salep mata, dan tetes telinga & Swamedikasi Obat pada Ibu Hamil dan Ibu Menyusui

Mata dan telinga merupakan bagian tubuh yang vital dari manusia. Ketika terjadi gangguan pada mata dan telinga penggunaan obat yang bekerja lokal lebih sering digunakan kepada masyarakat yang ingin melakukan swamedikasi seperti misalnya sediaan tetes mata, salep mata dan tetes telinga. Maka dari itu masyarakat perlu mengetahui cara penggunaan sediaan tersebut dengan tepat. Berikut adalah petunjuk cara penggunaan obat tetes mata, salep mata, dan tetes telinga.
 

Petunjuk Pemakaian Obat Tetes Mata

Gambar 1.Sumber: http://www.allaboutvision.com

Petunjuk Pemakaian:
1.    Ujung alat penetes jangan tersentuh oleh benda apapun (termasuk mata) dan selalu ditutup rapat setelah digunakan.
2.    Cuci tangan hingga bersih sebelum menggunakan obat tetes mata
3.    Kepala ditengadahkan, jari telunjuk kelopak mata bagian bawah ditarik ke bawah untuk membuka kantung konjungtiva,
4.    Obat diteteskan pada kantung konjungtiva dan mata ditutup selama 1-2 menit, jangan mengedip.
5.    Ujung mata dekat hidung ditekan selama 1-2 menit
6.    Tangan dicuci untuk menghilangkan obat yang mungkin terpapar pada tangan
7.    Untuk glaukoma atau inflamasi, petunjuk penggunaan yang tertera pada kemasan harus diikuti dengan benar


Petunjuk Pemakaian Obat Salep Mata
Gambar 3.Sumber: http://www.netdoctor.co.uk

Petunjuk Pemakaian:
1.    Ujung tube salep jangan tersentuh oleh benda apapun (termasuk mata).
2.    Cuci tangan hingga bersih sebelum menggunakan obat salep mata
3.    Kepala ditengadahkan, dengan jari telunjuk kelopak mata bagian bawah ditarik ke bawah untuk membuka kantung konjungtiva
4.    Tube salep mata ditekan hingga salep masuk dalam kantung konjungtiva
5.    Mata ditutup selama 1-2 menit. Mata digerakkan ke kiri-kanan, atas-bawah.
6.    Setelah digunakan, ujung kemasan salep diusap dengan tissue bersih (jangan dicuci dengan air hangat) dan wadah salep ditutup rapat.
7.    Cuci tangan untuk menghilangkan obat yang mungkin terpapar pada tangan

Pemakaian Obat Tetes Telinga

Petunjuk Pemakaian:
1.    Ujung alat penetes jangan menyentuh benda apapun termasuk telinga
2.    Cuci tangan sebelum menggunakan obat tetes telinga
3.    Bersihkan bagian luar telinga dengan ”cotton bud”
4.    Jika sediaan berupa suspensi, sediaan harus dikocok terlebih dahulu
5.    Penderita berbaring miring dengan telinga yang akan ditetesi obat menghadap ke atas.
6.    Untuk membuat lubang telinga lurus sehingga mudah ditetesi maka bagi penderita dewasa telinga ditarik ke atas dan ke belakang, sedangkan bagi anak anak telinga ditarik ke bawah dan ke belakang.
7.    Kemudian obat diteteskan dan biarkan selama 5 menit
8.    Bersihkan ujung penetes dengan tissue bersih.


Semoga Bermanfaat

K. Sastra Negara
1508526007

Sumber:
Direktorat Bina Frmasi Komunitas Klinek Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Departemen Kesehatan RI. 2007. Pedoman Penggunaan Obat Bebas dan Bebas Terbatas. Separtemen Kesehatan RI: Jakarta
 





 Swamedikasi Obat pada Ibu Hamil dan Ibu Menyusui
Image Source

Halo.. apa kabar semua? semoga dalam kondisi sehat ya, kalau ada yang lagi sakit semoga cepet sembuh. Penyakit emang ga pandang bulu, mulai dari anak-anak, dewasa, peremuan, laki-laki semua semua pasti pernah mengalami yang namanya sakit. Penyakit-penyakit dengan gejala yang ringan masih bisa di obati sendiri atau Swamedikasi, termasuk dalam kondisi khusus seperti pada ibu hamil dan menyusui. Kali ini akan dibahas tentang swamedikasi pada ibu hamil dan ibu menyusui.

Pada kehamilan yang menjadi fokus perhatian dalam penggunaan obat adalah memastikan keamanan bagi ibu dan janin. Penggunaan obat-obatan pada masa kehamilan terutama pada trimester mendapat perhatian lebih karena dapat terjadi paparan obat terhadap janin dan dapat mempengaruhi tumbuh kembang janin. penggunaan obat pada masa kehamilan dilakukan jika manfaat melebihi resiko dari penggunaan obatan tersebut. Obat berdasarkan pada keamanannya pada masa kehamilan diklasifikasikan oleh FDA (Food and Drug Administration) menjadi 5 kategori yaitu A,B,C,D dan X. kategori tersebut berdasarkan ada tidaknya pengaruh obat terhadap janin/efek teratogenik pada manusia atau hewan uji. Batuk, pilek, alergi, nyeri, dan gangguan pencernaan merupakan penyakit yang umum dialami oleh ibu hamil. Beberapa obat-obat swamedikasi yang dapat digunakan antara lain seperti CTM (antihistamin), Phenylephrine (dekongestan), Dextomethorphan (antitusif), Guaifenesin (ekspektoran), parasetamol dan antasida (kecuali magnesium trisilicate dan natrium bicarbonate). Untuk memastikan keamanan bagi ibu dan janin, sebaiknya pasien berkonsultasi terlebih dahulu  dengan Apoteker sebelum mengkonsumsi obat pada masa kehamilan untuk tujuan swamedikasi.

Hampir serupa dengan penggunaan obat pada kehamilan, pada ibu menyusui yang menjadi perhatian adalah agar bayi tidak terpapar obat yang dikonsumsi ibu. Obat yang dikonsumsi oleh ibu sebagian terekskresi melalui air susu ibu (ASI). Sehingga dikhawatirkan bayi mengalami adverse effect yang disebabkan oleh obat yang terkandung di dalam ASI. Sebagian besar obat-obatan terekskresi melalui ASI dalam jumlah yang kecil dan berada dibawah dosis terapi bagi bayi. Walaupun demikian, bagi bayi yang mendapatkan ASI disaat ibunya mengkonsumsi obat harus tetap dilakukan pengamatan terhadap efek samping obat. Untuk meminimalisir paparan terhadap bayi melalui ASI dapat dilakukan hal-hal seperti merubah rute administrasi obat dan menghindari efek sistemik, menggunakan dosis lazim terkecil, mengatur waktu pemberian ASI pada bayi dan waktu meminum obat (misalnya memberi ASI dahulu sebelum jadwal meminum Obat) dan mengganti dengan obat yang lain jika memungkinkan. Obat-obatan swamedikasi yang umum digunakan pada ibu menyusui seperti paracetamol dan ibuprofen (analgesik), guaifenesin, bromhexin, dextrmethorphan dan loratadine. Penggunaan pseudoefedrin perlu dihindari saat masa menyusui karena dapat mengurangi produksi ASI. Konsultasikan setiap penggunaan obat selama menyusui pada apoteker atau dokter untuk memastikan keamanan terutama agar bayi tidak mengalami efek samping dari pengobatan yang di terima ibunya.

A.A. Bagus Maradi W. D.
1508526008

Sumber:

Christof Schaefer,Paul W.J. Peters,Richard K Miller. 2014. Drugs During Pregnancy and Lactation: Treatment Options and Risk Assessment.



Anita T. Mosley, PhD, PharmD; Amy P. Witte, PharmD. 2013. Drugs in Pregnancy:Do the Benefits Outweigh the Risks?