| Image Source |
Populasi
geriatri (Lansia) merupakan populasi yang sudah mengalami penurunan fungsi fisiologis. Proses
penuan pada umumnya dimulai pada umur 40an yakni dengan adanya penurunan
kondisi sel tubuh yang akan mempengaruhi fungsi organ, termasuk kemampuan
sistem keseimbangan tubuh dalam menghadapi penyakit atau tekanan seperti
kelelahan. Sebagai contoh, flu pada lansia dapat lebih berbahaya daripada orang
berusia muda. Beberapa pengaruh penuan pada tubuh diuraikan dibawah ini :
- Kulit menjadi lebih tipis, kering,
berkurangnya kadar lemak, berkerut, kurangnya fungsi pelindung dan bahkan
kurangnya aliran darah kekulit.
- Sistim pembuluh darah menurun
seperti kurangnya aliran darah yang dipompa jantung, kurangnya elastisitas
pembuluh darah dan menumpuknya zat-zat lemak pada bagian dalam arteri yang
menyebabkan hipertensi.
- Sistim pernapasan mengalami
gangguan, misalnya: menempelnya kolagen diparu-paru yang menyebabkan
kurangnya kemampuan untuk mengembang. berkurangnya aliaran darah ke
paru-paru menyebabkan pernapasan berkurang efisein dan oksigen yang
dialirkan ke tubuh menjadikurang. Hal ini menyebabkan frekuensi bernafas
lebih cepat dari normal 16-20 kali per menit.
- Sistim saraf mengalami
penurunan daya ingat dan kemampuan mengambil keputusan karena sel otak
yang mati dan atau berkurangnya aliran darah ke otak. Bingun dan perubahan
personalitas dapat terjadi karena kekurangan oksigen yang dibawa darah ke
otak.
- Sistem sensor/indra umumnya kurang
kuat dan kurang jelas. Mata kadang-kadang tidak tahan cahaya matahari
langsung, telinga kurang mendengar, atau butuh suara lebih keras dan indra
perasa dan pembau juga kurang berfungsi dengan baik. Jika ini terjadi maka
lansia akan bingung apa lagi kalau dalam lingkungan atau orang-orang yang
tidak membantu.
- Sistem pencernaan mengurangi
penurunan gerakan dan sekresi asam lambung yang akan menyebabkan makanan
sulit untuk dicerna, sulit unutk menguyah atau tidak nyaman karena gigi
yang hilang/berkurang absorpsi yang berkurang sehingga kekurangan nutrisi.
- Sistem pembuangan air seni yang
menurun, seperti terjadinya penumpukan sisa-sisa metabolisme tubuh yang
seharusnya dibuang yang disebabkan karena melambatnya fungsi penyaringan
ginjal dan melambatnya aliran darah yang masuk ke ginjal.
- Sistem hormon mengalami gangguan
sekresi sehingga metabolisme sel tubuh tidak dapat diatur dengan baik dan
tubuh tidak dapat bereaksi cepat terhadap tekanan dari luar. Misalnya
banyak lansia yang mengalami diabet.
- Sistem reproduksi mengalami
pengurangan hormon seks, yang menyebabkan perubahan fisik, misalnya wanita
berumur diatas 48 tahun tidak akan mentruasi, namun dalam hal kebahagian
dalam aktifitas seksual lansia tidak begitu terganggu karena tidak hanya
hormon seks tapi juga karena pengaruh sikap dan emosi.
- Sistem otot mengalami penurunan
kekuatan dan kelenturan, disamping itu juga mengalami peningkatan jumlah
lemak yang menggantikan otot, tulang menjadi lebih ringan dan porositas
tinggi, sehingga mudah patah dan lama tumbuh. Sendi dan otot disekitarnya
menjadi rusak.
Karena pengaruh sepuluh
hal diatas, maka jika lansia memakai obat, umumnya akan terjadi pelambatan absorpsi, distribusi
metabolisme dan ekskresi/eliminasi. Pemilihan obat yang sesuai dengan kondisi
tersebut memerlukan pengetahuan yang hanya dimiliki oleh apoteker. Pemilihan
obat tersebut juga diikuti oleh penentuan dosis yang tepat, cara penggunaan
obat yang tepat, monitoring efek terapi dan efek samping obat.
Swamedikasi dipertimbangkan oleh World Health Organisation (WHO)
untuk menjadi kebijakan kesehatan internasional, karena swamedikasi tidak hanya
dapat mengurangi beban biaya pada pelayanan kesehatan namun juga mampu meningkatkan
ketaatan pasien dan meningkatkan outcome pengobatan. Dengan pertimbangan
tersebut, maka peran apoteker di Indonesia dalam swamedikasi terutama untuk populasi
geriatri sangat dibutuhkan. Apoteker hendaknua menjadi sumber informasi yang
baik, hangat dan memiliki pengetahuan yang cukup dalam melayani pasien lasia.
Berikut merupakan saran yang dapat dilakukan untuk melakukan swamedikasi obat
pada pasien geriatri untuk mencapai terapi yang optimal:
Hal
pertama adalah memastikan data/informasi tentang pasien dan kondisinya.
Kekurangan oksigen ke otak, efek samping obat, dan beberapa penyakit dapat
menyebabkan lansia kurang mengenal dirinya atau setidak-tidaknya kondisi fisik
sosial dan kondisi psiologisnya. Jadi dapat saja terjadi jika ditanya atau
dipanggil lansia tidak menjawab.
- Jelaskan
apa yang akan anda lakukan/sampaikan untuk melayani lansia agar yang
bersangkutan paham dan mau bekerjasama dalam pemakaian obat. Kadang-kadang
lansia takut memakai obat mungkin karena tidak paham. Penjelasan yang
ramah dan kesabaran untuk mendengarkan akan membantu pengobatan.
- Jelaskan
tentang oabat yang akan dipakai, mungkin saja lansia karena pengalamannya,
pernah mengalami ketidaknyamanan dalam memakai obat. Jadi perlu ditanyakan
atau dijelaskan untuk tidak perlu khawatir dan sampaikan manfaat yang akan
dirasakan sambil menjelaskan dengan hati-hati kemungkinan efek samping
yang akan terjadidan cara menghadapi atau mengatasinya. Karena biasanya
jenis obat yang dipakai banyak dan kemungkinan ada penolakan/ketidak
patuhan lansia, maka jelaskan obat yang paling penting mana yang harus
dipakai.
- Minta
keluarga atau siapapun yang bisa jadi pengawas pemakai obat (PMO) untuk
membantu dan mengawasi pemakaian obat.
- Jika
lansia sukai memakai obat dapat dibantu dengan minum obat bersama makanan
dan atau minuman yang sesuai. Hati-hati terhadap obat yang tidak tahan
terhadap asam, jangan diberikan dengan jus buah atau obat-obtan yang tidak
tahan basa jangan diminum dengan susu.
- Jelakan
bila perlu berikan catatan jika pasien bingung mungkin disebabkan kodisi
fisik/psiologis atau karena efeek samping obat.
- Jika
pasien lansia mengalami kekurangan pendengaran dan atau penglihatan, anda
perlu menyusuaikan diri, misal bicara dengan mengatur tinggi dan rendah
intonasi dan artikulasi suara pada saat memberikan penjelasan atau intruksi
serta memberikan waktu untuk menjawab. Jika perlu buat tulisan yang jelas
dengan huruf besar.
- Perhatikan
interaksi baik sesama obat atau makanan/minuman, termasuk kemungkinan
penyalahgunaan obat bebas, herbal atau alat tradisional.
- Perlu
penjelasan tentang penyimpanan obat dengan baik dan menjaganya untuk tidak
salah memakai dan menyimpan obat.
- Jika
ada obat yang diberi cara penggunaan ”bila perlu”maka perlu penjelasan
mengapa dan apa tujuan penggunaan ”bila perlu”, misalnya analgetik tidak
lagi dipakai jika rasa sakit sudah menghilang.
- Jelaskan
apa yang akan anda lakukan/sampaikan untuk melayani lansia agar yang
bersangkutan paham dan mau bekerjasama dalam pemakaian obat. Kadang-kadang
lansia takut memakai obat mungkin karena tidak paham. Penjelasan yang
ramah dan kesabaran untuk mendengarkan akan membantu pengobatan.
Semoga Bermanfaat ^^
NYOMAN
KRISNA UDAYANA
1508526009
SUMBER:
Anonim, 2014, Topik Sajian Utama :
Menuju Swamedikasi yang Aman. Buletin InfoPOM. Vol.15 No.1:-12.
Prest, M. 2003. Penggunaan Obat Pada
Lanjut Usia, dalam Farmasi Klinis (Clinical Pharmacy)Menuju Pengobatan Rasional
dan Penghargaan Pilihan Pasien, editor: Mohamed Aslam, Chik Kaw Tan, Adji
Prayitno, Elex Media Komputindo, Jakarta.
Supadmi, W. 2013. Gambaran Pasien
Geriatri Melakukan Swamedikasi Di Kabupaten Sleman. Pharmaciana, Vol. 3. No. 2:
45-50.